Menangkal konflik pemilu berbasis SARA, Bawaslu Kabupaten Pasuruan Kolaborasi Tokoh lintas Agama
|
Perwujudan kualitas pemilu demokratis dan damai tidak semudah membalikan tangan, nuansa potensi konflik berbaju SARA dipastikan akan mewarnai. Oleh sebab itu, konsistensi Bawaslu Kabupaten Pasuruan terus upayakan dialog yang dialogis dalam hal pencegahan dini seoptimal mungkin, salah satunya menjalin kolaborasi dan sinergi bersama pemuka lintas agama.
“Tokoh agama adalah actor kunci dalam melakukan pendidikan politik masyarakat, disamping karena kemampuannya menyampaikan pesan kedamaian ditengah gejolak praktik politik uang, maupun politisasi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan”, tutur M. Nasrub, Ketua Bawaslu Kabupaten Pasuruan ketika membuka acara Workshop Penyusunan Materi Pengawasan Partisipatif berbasis Agama pada Pukul 10.00 WIB tanggal 16 November 2022 di Hotel Royal Senyiur, Prigen.
Nasrub menambahkan keterlibatan masyarakat dalam pengawasan tidak hanya datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya, akan tetapi juga harus diwujudkan dengan melakukan pengawasan atas kecurangan yang terjadi serta berani melaporkan kepada Bawaslu, yang kemudian naluri keberanian masyarakat inilah yang perlu di pupuk oleh peran tokoh agama baik dari Romo Pandhito, Uskup, Kyai, Jiao Sheng (Penebar Konghucu) maupun Rsi Pinandita (Hindu).
“Untuk itu, Bawaslu sangat yakin bila kehadiran literasi damai dari ajaran-ajaran mulia agama sangat dibutuhkan sebagai bagian dari upaya strategis, kepedulian para 70 tokoh agama yang hadir di forum workshop ini dapat menenangkan situasi krisis sekaligus membentengi umat ”. Ujar mantab Nasrub.
Dokumentasi Humas Bawaslu Kabupaten Pasuruan, 2022.
Dalam workshop kali ini Bawaslu menghadirkan Moh. Maskurudin Hafid selaku CEO CM Management sebagai Narasumber utama, di dampingi Titin Wahyuningsih selaku Koordinator Devisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kabupaten Pasuruan, dimana keduanya menyampaikan perihal Ulasan Buku Pengawasan Partisipatif berbasis Agama disertai pengembangan kreatif sesuai kebutuhan dinamika literasi yang bisa dikonsumsi oleh khalayak masyarakat.
Titin Wahyuningsih, kaitannya dengan Media Digital, dari sudut pandangnya berujar tentang organisasi keagamaan menjadi garda terdepan untuk memastikan seluruh proses informasi yang diterima umatnya.
“harapannya, mengantisipasi politisasi SARA berbasis penyebaran informasi dimedia digital juga menjadi tantangan tersendiri, apalagi tingkat baca dan klarifikasi atas informasi bagi masyarakat kita masih rendah, untuk itu perlu upaya cepat, tepat, ringkas, dan mudah dipahami dalam menyampaikan informasi edukatif terkait pemilu, yakni pembuatan Quotes”, jelas gamblang Titin, ketika mengawali, mengulas 73 Quotes hasil diskusi forum yang bersumber dari kitab suci Alqurán, Kitab Manawa Dharmasastra, Al Kitab Matius, Etika Moral Kristen, Al Kitab Mazmur.
Gayung bersambut, Yudhi Dharma Santoso selaku tokoh agama Tri Dharma Pasuruan melontarkan sebuah kutipan/Quotes penutup “bila sudah tahu kebenaran namun tidak dihiraukan, datanglah kerugian dan kehancuran”. [AMN/TTN]