Bawaslu Luncurkan Buku “Tanpa Sensor”, Rekam Jejak Pengawasan Pemilihan 2024
|
pasuruan.bawaslu.go.id - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pasuruan resmi meluncurkan buku berjudul “Tanpa Sensor: Merekam Demokrasi dari Balik Lensa Pengawasan” sebagai bentuk dokumentasi perjalanan pengawasan tahapan Pemilihan Tahun 2024.
Buku ini menjadi arsip visual sekaligus refleksi atas kerja-kerja pengawasan yang dilakukan Bawaslu bersama jajaran adhoc, mulai dari tahapan awal, pemutakhiran data pemilih, pencalonan, kampanye, masa tenang, hingga proses pemungutan dan rekapitulasi suara. Melalui kolase foto dan narasi, buku ini menghadirkan potret nyata dinamika pengawasan di lapangan yang selama ini jarang tersorot publik.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pasuruan, Arie Yoenianto, menyampaikan bahwa buku Tanpa Sensor bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban moral kepada masyarakat.
“Buku ini kami hadirkan sebagai wujud transparansi dan refleksi atas seluruh proses pengawasan Pemilihan 2024. Kami ingin menunjukkan bahwa di balik setiap tahapan demokrasi, ada kerja-kerja pengawasan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, bahkan dalam kondisi yang tidak selalu mudah,” ujar Arie.
Ia menambahkan, pengawasan pemilu bukan hanya soal menemukan pelanggaran, tetapi memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan serta menjaga kepercayaan publik terhadap demokrasi.
“Melalui buku ini, kami ingin menyampaikan bahwa pengawasan bukan sekadar tugas administratif, tetapi komitmen moral untuk menjaga integritas demokrasi. Setiap foto dalam buku ini adalah bukti bahwa pengawasan hadir di setiap lini, dari desa hingga tingkat kabupaten,” tegasnya.
Sementara itu, inisiator pembuatan buku, Ahmad Thoifur Arif, menjelaskan bahwa gagasan buku ini lahir dari keinginan untuk mendokumentasikan kerja-kerja pengawasan yang sering kali luput dari perhatian publik.
“Selama ini, kerja-kerja pengawasan banyak terjadi di ruang-ruang sunyi dan tidak selalu terlihat. Melalui buku Tanpa Sensor, kami ingin menghadirkan rekaman yang jujur dan apa adanya tentang bagaimana pengawasan itu dijalankan di setiap tahapan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa buku ini tidak dibuat untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai upaya menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi.
“Buku ini adalah ruang dokumentasi dan refleksi. Foto-foto yang ditampilkan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menunjukkan bahwa pengawasan adalah bagian penting dalam memastikan demokrasi berjalan dengan jujur, adil, dan berintegritas,” tambahnya.
Menurut Arif, buku ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap seluruh jajaran pengawas pemilu yang telah bekerja dengan penuh dedikasi di lapangan.
“Ini adalah karya kolektif. Di dalamnya ada jejak langkah para pengawas dari tingkat kabupaten hingga desa, yang bekerja dalam berbagai keterbatasan namun tetap menjaga komitmen. Kami ingin memastikan bahwa kerja-kerja tersebut tidak hilang begitu saja, tetapi tercatat sebagai bagian dari sejarah demokrasi,” jelasnya.
Buku ini tersusun dalam beberapa bab yang menggambarkan setiap fase penting pengawasan, mulai dari “Titik Awal: Membangun Kesadaran Pengawasan”, “Menjaga Data, Menjaga Hak Pilih”, hingga “Hari Penentu” dan “Di Balik Meja Rekap”. Tidak hanya itu, buku ini juga mengangkat peran perempuan pengawas serta kisah para pengawas di tingkat akar rumput yang menjadi ujung tombak pengawasan di wilayah.
Dengan peluncuran buku ini, Bawaslu Kabupaten Pasuruan berharap dapat memperkuat literasi demokrasi serta meningkatkan kesadaran publik bahwa menjaga demokrasi merupakan tanggung jawab bersama.
Penulis : Ismail
Editor : Muhammad