Pemilih Milenial, Masih Sekedar Pasar
|
pasuruan.bawaslu.go.id – Surabaya. Upaya peningkatan partisipasi pemilih di Pemilihan serentak 2020, terus dilakukan dengan berbagai pendekatan oleh berbagai stakeholder.
Kali ini dilakukan oleh civil society, Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jatim kerjasama dengan Sindikasi Pemilu Demokrasi (SPD) melaksanakan Diskusi online, dengan topik “Upaya Meningkatkan Partisipasi Warga Negara dalam Pemilihan Serentak 2020”, Selasa (30/06/2020) siang.
Diskusi online dipandu oleh Novli Thyssen, Ketua KIPP Jatim. Diskusi online ini dapat diikuti melalui zoom meeting dan salah satu peserta online yang hadir, Hari Moerti, Komisioner Bawaslu Kabupaten Pasuruan.
Kalau KPU menetapkan target partisipatif 77,5% di Pilkada 2020, itu belum pernah dicapai dalam tiga gelombang Pilkada sebelumnya, baik tahun 2015, tahun 2017 dan tahun 2018. Padahal ketiganya, Pilkada dalam kondisi normal, kata August Mellaz, Direktur SPD, yang disampaikannya saat diskusi online.
August kemudian merinci, Pilkada 2015 partisipasi 64 %, Pilkada 2017 partisipasi 71%, dan Pilkada 2018 partisipasi, 73%. Kalau tingkat partisipasi digabungkan dengan suara tidak sah, maka akan lebih sedikit lagi angkanya, jelas August.
August melanjutkan, civil society juga bisa mendorong agar para kontestan mengusung isu-isu pandemi, dan keterkaitan ekonomi. Peran pemantau tetap dibutuhkan, ada pandemi atau tidak ada pandemi. Ada Pemilu atau tidak, pandemi tetap ada.
Berikutnya August juga menyoroti pemilih milenial. Menurutnya, Kelompok milenial sekitar 33% dari pemilih. Selama ini mereka hanya pasar, belum bisa mendefinisikan kepentingannya.
Kandi Tomasoa, Dosen dan Pakar Komunikasi Unair,.Selasa (30/06/2020)
Sementara itu, narasumber berikutnya, Kandi Tomasoa, Dosen dan Pakar Komunikasi Unair. Menurut Kandi, untuk meningkatkan partisipasi itu perlu simbol, yakni simbol aksi dan simbol resistensi.
Simbol aksi, itu akan menimbulkan solidaritas, dan harus dapat diikat oleh apa, terhadap apa, tentunya bukan ikatan ke parpol semata. Harusnya bisa lebih penting, lebih punya daya tarik, kata perempuan yang sedang menempuh strata tiga di London itu.
Simbol resistensi itu mengubah sesuatu. Kita bisa melakukan perlawanan untuk mengubah sesuatu. Jangan sampai gagal mengubah sesuatu, katanya berfilosofi.
Terhadap kelompok milenial, Kandi menyebut, identitas milineal hanya komoditas, komoditas identitas, sehingga bisa dipolitisasi, pungkasnya.[#HM]