Lompat ke isi utama

Berita

Pemilu Global dan Covid-19

pasuruan.bawaslu.go.id – Jambi.    Mencermati dari perkembangan Pemilu global dan Covid-19, terdapat 22 negara menunda Pemilu nasional dan 36 negara tetap lanjut, 21 negara diantaranya Pemilu nasional. Data ini mulai kurun waktu 21 Februari 2020 sampai 24 Juni 2020.

Salah satu yang menjadi dasar, surat terbuka Kofi Annan Foundation, yang isinya “Demokrasi tidak boleh menjadi korban, demokrasi harus bertahan, tetap bisa dilanjutkan”.

Namun, ada sejumlah prasyarat yang harus terpenuhi, diantaranya: dasar hukum yang kuat dan tidak terlambat, dukungan politik yang luas, komunikasi publik yang jelas dan transparan, informasi teknis terbaik, dan waktu atau jadwal terukur.

Hal ini disampaikan Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perludem, dalam kegiatan daring dengan tema “Menakar asas Jurdil pelaksanaan Pilkada dimasa Pandemi Covid-19, Hambatan dan Tantangan”, yang diselenggarakan oleh Bawaslu Provinsi Jambi bersama Fakultas Hukum Universitas Batanghari (Unbari), Kamis (25/06/2020) pagi.

Kegiatan itu dipandu oleh Wein Arifin, Komisioner Bawaslu Provinsi Jambi dan diikuti sampai batas maksimal peserta, 500 orang. Latar belakang peserta beragam, dari civitas akademika Universitas Batanghari (Unbari) Jambi, maupun penyelenggara Pemilu, termasuk diantaranya diikuti oleh Hari Moerti, Komisioner Bawaslu Kabupaten Pasuruan.

Berikutnya, Titi juga mengutip Global on Election, Democracy, and Security: Lima tantangan utama Pemilu Berintegritas. Pertama; peraturan hukum untuk Hak Asasi Manusia dan keadilan Pemilu. Kedua; penyelenggara Pemilu kompeten dengan kebebasan penuh, Ketiga; Institusional dan norma persaingan; Keempat; menghilangkan hambatan-hambatan hukum, administratif, politik, ekonomi, dan sosial. Kelima; mengatur keuangan politik.

Sementara itu, narasumber lain, Nur Hidayat Sardini, yang pernah jadi Ketua Bawaslu RI 2008-2011, juga mengulas Pemilu global, membagi pengalaman Pemilu negara lain , ia memulainya dengan Pemilu di Korea Selatan.

“Korea Selatan menyelenggarakan Pemilu pada 15 April 2020, dengan tingkat partisipasi 66,2%. Pemilih Korea Selatan hadir untuk memberikan suaranya di TPS dengan memakai masker, berjarak antar pemilih sekitar satu meter, mengukur suhu tubuh, cuci tangan dan pakai sarung tangan plastik. ”, kata lelaki yang biasa dipanggil dengan inisial NHS itu.

Bangsa Korea memang punya disiplin tinggi dan memiliki etos kerja tinggi. Pasca Pemilu, Pandemi Covid-19 relatif terkendali, tambah NHS.

Pemilu negara lain yang dicontohkan lagi, Pemilu di Amerika Serikat (super Tuesday), “Selama kampanye Pemilu Pendahuluan, tampak seperti keadaan biasa, seperti tidak sedang pandemi Covid-19, kerumunan rapat, tanpa masker, ataupun Alat Pelindung Diri (APD) lainnya”.

Itu berlangsung selama akhir Februari hingga akhir Maret 2020. Maka tak heran jika Pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sekarang sangat meluas, ungkap NHS, yang pernah menjadi anggota DKPP 2012-2017.[#HM]

Tag
Berita